Featured Post

Ekspedisi Papua dan peran misionaris Katolik gelombang pertama di Papua selatan

Salju abadi Cartenz - Dok. Penulis Oleh: Sdr. Vredigando Engelberto Namsa, OFM, biarawan Fransiskan Papua Tahun 1498 Vasco da Gama berkelili...

LATEST ARTICLES

22/07/2022

- July 22, 2022

Cerita singkat Asmat menjadi keuskupan mandiri

Asmat naratimo.com
Dokumen penulis

Dalam siaran Radio Merauke Maro, Uskup Merauke menyampaikan pengumuman yang ditujukan kepada semua umat Katolik Irian Barat, khususnya umat di wilayah Asmat. Isi pengumuman itu kurang lebih berbunyi: 


"Bersama ini kami umumkan, bahwa dengan sebuah surat keputusan dari Tahta Suci di Roma, daerah Gerejani Asmat ditingkatkan menjadi keuskupan Agats-Asmat. Terhitung mulai tanggal 21 Agustus 1969. Kepada seluruh warga Gereja Katolik dan terutama kepada Mgr. Alphonse Sowada, OSC kami mengucapkan selamat berbahagia atas tugas baru sebagai Uskup. Semoga Tuhan mencurahkan rahmat dan berkat-Nya ke atas Keuskupan Agats dan uskupnya."


Asmat adalah suatu daerah yang luas. Luas wilayahnya kira-kira 100 ribu kilo. Daerah ini sebagian besar terdiri dari rawa-rawa dan dataran rendah. 


Sampai pada tahun 1950 Asmat masih merupakan "tanah yang belum disentuh", didiami oleh orang-orang yang ditakuti oleh orang-orang dari luar. 


Sebenarnya mereka sendiri takut kepada penyakit, kematian dan orang-orang yang bersikap bermusuhan, serta pemahaman tentang roh-roh. Yang menjadi pedoman hidup mereka adalah apa yang menentukan hidup orang-orang yang masih berziarah di dunia ini. 


Namun, sebenarnya mereka juga adalah manusia, sama seperti manusia lainnya. Mereka juga menginginkan kebahagian dalam hidup mereka.


Pos pemerintah pertama dibuka pada tahun 1939. Sesudah Perang Dunia II dibuka kembali pada tahun 1954. 


Akan tetapi, pada tahun 1952 Pater Zegwaard, MSC memulai suatu sejarah pekerjaan misi Katolik di antara orang-orang Asmat yang gagah perkasa. 


Asmat Papua
Dokumen penulis

Dengan penuh keberanian dan semangat yang luar biasa lima orang guru yang pertama mulai bertugas di kampung-kampung, seperti, Syuru, Ewer dan Ayam. 


Pada tahun 1953 Pater Zegwaard meninggalkan Mimika dan mulai menetap di Agats sebagai pastor yang pertama. Menjelang beberapa bulan kemudian beliau mendapat bantuan dari Pater Welling, MSC.


Monsinyur Tillemans dan para misionaris dari Keuskupan Merauke bekerja dengan giat dan penuh semangat di Asmat. Respons dari warga setempat terhadap misi Katolik ini sangat luar biasa. 


Persekutuan gerejani semakin bertambah besar. Umat meminta lebih banyak imam. Perkembangan yang sedang berjalan menuntut lebih banyak guru dan para teknisi yang terdidik.


Pada tahun 1958, dari Amerika datang para pater dan bruder Ordo Salib Suci (OSC) yang pertama untuk turut membantu perkembangan misi Katolik di Vikariat Merauke, terutama wilayah Asmat. Mereka itu adalah Pater Pitka, Pater Hesch dan dua orang bruder yang siap bekerja di Agats. Mereka itu adalah Br. de Louw dan Br. Meumer. 


Asmat Papua
Dokumen penulis

Dari sekitar 35 ribu penduduk, sebagian dari mereka sudah dibaptis. Mereka yang dibaptis diperkirakan mencapai 14 ribu orang. Kecuali sekolah-sekolah pada banyak tempat, juga gereja-gereja di Agats, Ewer, Yamas, Erma, Komor, Ayam, Yasakor, Atsj dan Primapun. 


Primapun dengan stasinya yang banyak penduduk (6.000) termasuk dalam daerah Asmat dan sekarang ini merupakan bagian dari Keuskupan Agats-Asmat. 


Walaupun untuk sementara waktu dua orang Pater MSC dari keuskupan Agung Merauke masih akan tetap membantu para misionaris OSC di sana. Di Agats ada lima orang suster dari kongregasi Santa Maria Pengantara. Sebagian orang-orang Asmat sendiri, dan para awam yang mempunyai andil besar dalam perkembangan pewartaan misi Katolik di tanah Asmat. 


Daerah Asmat kini sudah menjadi Gereja (Keuskupan) sendiri, yang bersama dengan Gereja (Keuskupan) Merauke, Jayapura dan Manokwari membentuk provinsi Gerejani Irian Barat (Gereja Timika dikemudian hari). 


Dengan membentuk Provinsi Gerejani ini, maka Irian Barat (Papua) menjadi tujuh Provinsi Gerejani dari Indonesia. []



Penulis: Sdr. Vredigando Engelberto Namsa, OFM, Anggota Fransiskan Papua


18/07/2022

- July 18, 2022

Perang Dunia II dan misi Katolik di Papua Selatan

Katolik Papua
Dokumen penulis

Perang Dunia II membawa akibat yang begitu besar bagi misi Katolik di Papua Selatan. Saat itu tidak mungkin mendatangkan misionaris baru untuk berkarya. 

 

Papua Selatan tidak pernah diduduki oleh ekspansi militer Jepang selama Perang Dunia II, kecuali Asmat, Mimika dan beberapa daerah lain di Papua. Daerah-daerah yang tidak diduduki oleh Jepang meliputi daerah pantai sekitar Merauke, Mappi dan Muyu. 

 

Oleh sebab itu, para misionaris, baik awam, maupun biarawan-biarawati, dapat bekerja terus tanpa gangguan akibat perang.

 

Pada tahun ini (sekitar 1941 - 1942) Pater Drabbe, MSC bekerja di antara suku Mappi dan Auyu. Tahun 1942-1945 ia mulai bekerja di antara suku Muyu. Pater ini tidak pernah segan untuk mempelajari bahasa daerah Mappi, Auyu dan Muyu. 

 

Pada tahun tersebut ini, doa-doa dibuat oleh sang pater dalam bahasa daerah, demi kepentingan pembinaan iman umat.

 

Selama Perang Dunia II tidak mungkin mendatangkan guru-guru baru dari Kei ataupun Tanimbar. Maka putra-putra asli daerah Muyu, Mappi dan Auyu sendiri dididik sedapat mungkin, untuk membantu pelayanan misi Katolik di daerah-daerah tersebut. 

 

Dengan metode demikian pelbagai kampung dapat ditempatkan guru asli. Mereka bekerja sebagai guru agama atau guru biasa pada sekolah-sekolah yang sudah dibuka.

 

Kemajuan misi Katolik di Papua Selatan dapat dilihat dalam statistik tahun 1945. Di pantai selatan Papua, termasuk Kimaam ada 8.608 orang Katolik, Muyu ada 4.028, Mappi dan Auyu ada 1.328 orang dan Mimika 4.992 orang Katolik. Jumlah seluruhnya kira-kira mencapai 19.000 orang Katolik. Ini merupakan suatu hasil yang memuaskan kala itu. 

 

Akan tetapi, ini sebuah hasil dari pengorbanan para misionaris yang membawa injil atau kabar baik.

 

Pada Mei 1943 Pater Laper, MSC meninggal dunia karena tenggelam dalam sungai di Mimika. Demikian pula dengan Pater Neyes, MSC. Ia menemui ajalnya karena tenggelam dalam sebuah sungai di dekat Muting. Hal ini terjadi pada tahun yang sama, yakni tahun 1943, waktu pendudukan Jepang di Papua. 

 

Misi Katolik di bawah asuhan MSC harus berduka karena kehilangan beberapa misionarisnya di Langgur-Kei Kecil, Maluku. Tahun 1942 Jepang menduduki pulau tersebut. 

 

Pagi-pagi tanggal 30 Juli 1942, Mgr. J. Aerts, MSC, bersama lima orang Pater dan lima orang bruder yang bekerja di Langgur dibunuh dengan kejam oleh tentara Jepang.

 

Sesudah Perang Dunia II para misionaris yang masih hidup dan kuat, setelah mengalami tawanan perang oleh pihak Jepang, akhirnya kembali ke stasi mereka masing-masing. 

 

Pada tahun 1946 datanglah beberapa misionaris dari Belanda yang siap membantu penyebaran Injil di Tanah Papua. Mereka adalah Pater Kessel, MSC, Pater Verhoeven, MSC, Bruder van Hoof dan Bruder van de Martel. 

 

Tak lama kemudian pada tahun yang sama, tepatnya di bulan Desember datang juga seorang pater muda yang menyusul mereka berempat. Dia adalah Pater Zegwaard, MSC. 

 

Pater ini sejak April 1947 ditugaskan di Mimika sampai tahun 1952. Waktu itu, Pater Kessel sudah bertugas di Pasir Putih dan di kemudian hari membuka stasi Primapun.

 

Pada tahun 1947 datang lagi beberapa misionaris muda dari Belanda yang siap membantu pelayanan Misi Katolik, di daerah yang bagi mereka semua serba baru.

 

Namun, mereka tak gentar dan siap menjalankan tugas ini dengan penuh semangat. Mereka itu adalah Pater Verhage, MSC, yang pada tahun kedatangannya bertugas di Merauke. 

 

Pada tahun 1948, datang juga seorang pater baru. Ia adalah Pater Sneekes, MSC. Ia ditugaskan untuk berkarya di daerah Muyu-Mandobo selama 12 tahun. 

 

Pater Sneekes bekerja tanpa lelah untuk mewartakan kabar baik bagi umat yang dilayaninya.

 

Tahun 1948 misi Katolik di daerah Merauke diperkuat dengan datangnya bruder-bruder dari Kongregasi Santa Perawan Tujuh Kedukaan. Mereka ini bekerja dan terlibat langsung dalam pendidikan, pertanian, peternakan dan pertukangan, yang mula-mula dibuka di Merauke. 

 

Baru setahun kemudian dibuka lagi di Kepi dan Mindiptana. Bruder-bruder menciptakan kader-kader baru yang siap berkarya di atas tanah mereka sendiri.

 

Katolik papua
Dokumen penulis

Tidak tinggal diam sebagai kaum perempuan. Maka pada tahun 1949 para suster mulai bekerja di Mimika dan daerah Muyu. 

 

Pada tahun yang sama, Pater Meeuwisse dan Pater Verschueren mengadakan perjalanan selama 53 hari. Mereka menempuh hutan dan menemukan sungai besar, yang pada waktu itu sungai ini belum masuk dalam gambar peta Pulau Papua. 

 

Mereka berdua juga berjumpa dengan penduduk yang belum terdaftar (dibaptis). Penduduk diperkirakan berjumlah 10.000 atau 15.000 orang. 

 

Pada saat yang sama stasi di Merauke berjalan dengan lancar. Di wilayah Merauke datang juga seorang bruder untuk membantu pelayanan di sana. Ia adalah Br. Leoendersloot. Bruder ini tiba di Merauke pada 3 April 1949. Di kemudian hari menyusul Pater Vriens, MSC yang bertugas di Bade.

 

Waktu Perang Dunia II pecah, Pater Verschueren sudah mendirikan sekolah pertanian dan pertukangan. Sesudah Perang Dunia II usai, sekolah-sekolah ini dipindahkan ke Kelapa Lima dan dikemudian hari ditingkatkan menjadi sekolah teknik. 

 

Para misionaris ini juga membuka sekolah lanjutan dan sekolah pendidikan guru. Semuanya berpusat di Merauke. 

 

Pada permulaan tahun 1950 datanglah tenaga baru yang siap berkarya. Ia adalah Br. Willemese yang diberi tugas mengurusi perkebunan. Tahun yang sama juga, datanglah seorang pater baru. Ia adalah Pater van de Linden.

 

Misi di Papua Selatan maju sedemikian pesat, sehingga pada Juni 1950, Papua Selatan dipisahkan dari Maluku, serta diangkat menjadi Vikariat Apostolik yang berpusat di Merauke. 

 

Pater H. Tillemans diangkat menjadi Vikaris Apostolik yang pertama. Dengan demikian Gereja di Papua dibagi dalam dua wilayah gerejani. Wilayah itu ialah Vikariat Apostolik Merauke dan Prefektur Apostolik Hollandia (sekarang Jayapura). Pada saat inilah misi di Papua memasuki babak baru. []

 

 

Penulis:Sdr. Vredigando Engelberto Namsa, OFM, Fransiskan Provinsi Fransiskus Duta Damai Papua


09/07/2022

- July 09, 2022

Lunturnya pesta sekolah di sini

manggarai flores naratimo
Salah satu tokoh masyarakat ketika memberikan petuah melalui nyanyian saat pesta sekolah di Kampung Lentang, 11 September 2021. – Dokpri/Naratimo.com

Sebelum menulis catatan ringan ini pada suatu pagi yang udaranya menusuk ubun-ubun pukul lima pagi, saya dirasuk oleh sejumlah pertanyaan. 


Pertanyaan-pertanyaan itu di antaranya, pertama, apakah pesta sekolah itu? Mengapa pesta sekolah luntur dan apa barometernya? Dan apakah pesta sekolah itu harus dipertahankan? 


Untuk menjawab pertanyaan di atas saya terlebih dahulu mencari tahu dan mencoba mengenang kembali—semacam napak tilas tentang pesta sekolah. Lokus tulisan singkat ini adalah daerah Manggarai di Pulau Flores, terutama sekitar kampung saya. 


Sekadar diketahui, pesta sekolah adalah sebuah tradisi di Manggarai pada umumnya. Biasanya pesta sekolah digelar atau dibuat usai pengumuman kelulusan anak-anak SMA. Pesta sekolah—yang biasa dibuat sejak Juni hingga September saban tahun—dilakukan untuk mengumpulkan dana. 


Sebelumnya hari H biasanya tuan pesta atau warga kampung mengundang masyarakat sekampung dan kampung tetangga beserta keluarganya yang tersebar di daerah lain. 

Tujuan pesta sekolah adalah untuk bersama-sama memberikan dukungan bagi si anak yang baru saja lulus SMA dan hendak merantau, baik untuk sekolah, maupun untuk mencari nafkah (ngo pala atau ngo mbeot lage tacik). 


Dukungan dari warga kampung atau tamu undangan tidak hanya dalam bentuk uang atau dana, tetapi juga dukungan moril berupa doa dan nasihat dalam bentuk nyanyian-nyanyian tradisional atau goet-goet (ungkapan). 


Kehadiran warga kampung dan tamu undangan saat pesta sekolah merupakan berkat yang sungguh luar biasa. Mereka biasanya memberikan sumbangan secara sukarela ala kadarnya.


Jumlah uang atau dana yang dikumpulkan saat pesta sekolah biasanya diumumkan tengah malam, setelah dipastikan bahwa tidak ada lagi tamu undangan yang hadir. 


Sejumlah dana yang dikumpulkan itu bersumber dari beberapa pos masukan, di antaranya, hasil jabat tangan (cau lime) begitu undangan datang dan hasil jualan kepada tamu undangan. Jualan itu misalnya daging babi (sate babi per tusuk), jual tuak atau sopi, dana hasil potongan saat main kartu, jual rokok, dan lain-lain. 


Karena konteksnya pesta sekolah atau tampung dana, maka harga jualan di “warung si pemilik pesta” tentu berbeda dengan harga di pasaran umumnya. Misalnya bila harga tuak satu jeriken di pasaran seharga Rp 30 ribu, maka di tempat pesta ini dibanderol seharga Rp 50 ribu per jeriken, bila sopi per botol dijual seharga Rp 30 ribu, maka di tempat pesta ini dijual seharga Rp 60 ribu atau lebih. Begitu juga jualan lainnya. 


Saat pesta berlangsung biasanya dimulai oleh MC atau pranatacara dengan menyebutkan mata acaranya seperti, berjabat tangan (cau lime), tuak kapu atau tuak reis, makan dan “acara bebas” alias gosok lantai.


Tuak kapu adalah sapaan (menyapa) dari pemilik pesta (dan kampung) yang disimbolkan dengan tuak (minuman tradisional) kepada undangan.


Ada ungkapannya, misalnya: “Mori, hitut bao ko?” (Tuan, terima kasih karena kalian sudah datang dan menghadiri undangan kami). Lalu dijawab serempak, “Iyo, ite!!”(Ya, Tuan).


Kemudian dilanjutkan, “Mori, ai olo lami tombon, rewengn agu wewa te bantang cama reje lele wie ho’o. Ole ho’o neng mai itet Mori. Bombong keta dami rak, mohas nai. Neho joeng tuka koe, neho tendeng tuka mese. Naka lami neho wua pandang kapu neho wua pau. Te kapu lami ite, mese baild itet mori. Ole, hoo kin tuak dami!” (Tuan, sudah lama kami beri tahu, menyuarakan tentang pesta bersama malam ini. Aduh, kami senang karena tuan-tuan sudah hadir. Hati kami berbunga-bunga. Perut kami ibarat buah joeng dan tending—tutupan wadah tabung penyimpan padi. Kami menyambut kalian ibarat mendapat buah nanas dan mangga [rezeki tak terduga]. Kami mau memangku kalian, tapi kalian lebih besar dan tidak bisa dipangku seperti anak kecil lagi. Oleh karena itu, kami memangku dan menyambut kalian dengan tuak ini sebagai simbol penyambutan dan penghormatan kami).


Setelah juru bicara (biasanya tua adat atau yang dituakan) memberikan tuak, perwakilan undangan menjawab bebas dan mengambil tuak itu, lalu memberikan sejumlah uang. 


Setelah tuak kapu, dilanjutkan acara lainnya, seperti nasihat-nasihat dari orang yang dituakan kepada si anak. Nasihat atau petuah-petuah biasa dibawakan melalui lagu-lagu dan kata-kata (go’et). 


Ketika semua undangan makan, lalu dilanjutkan dengan acara bebas atau gosok lantai sampai pagi. Gosok lantai adalah sebutan untuk sesi dansa dan joget di kemah pesta itu, diiringi musik-musik, baik musik tradisional, maupun musik modern. 


Acara gosok lantai sampai pagi ini jarang diikuti orang-orang tua. Peminat gosok lantai pada pesta sekolah ini biasanya hanya muda-mudi. 


Dulu selain untuk tampung dana, pesta sekolah juga dijadikan oleh muda-mudi sebagai ajang cari jodoh. Maka tak jarang banyak muda-mudi menemukan jodohnya di tempat pesta sekolah. 


Orang-orang tua dulu (pria) biasa menyebut bisbalar (bisa bawa lari) kepada si perempuan, dan dijawab oleh si nona dengan kata gegerta (gereng gerak tana) atau tunggu hari terang. Bisbalar itu semacam tawaran atau rayuan untuk mengajak si nona untuk berkeluarga. 


Dan ketika pagi hari atau subuh terdengar berita bahwa si A wendo wina (bawa anak gadis dari kampung lain sebagai jodohnya ke kampung), dan lain-lain. 


Wendo saat pesta sekolah barangkali terjadi karena ada kecocokan sehingga ada kesepakatan antara si nona dan pria, untuk bawa lari (wendo). 


Singkat cerita, pesta sekolah tak hanya bertujuan untuk tampung dana, minta doa dan nasihat, tetapi juga ajang cari jodoh bagi muda-mudi.


Itu dulu. Kini zaman berbeda. Kemeriahan dan kesaratan makna dari pesta sekolah pada masa lalu perlahan tergerus oleh perkembangan zaman. Pesta sekolah tidak ramai seperti dulu lagi. 


Kini malah pesta sambut baru atau komuni pertama yang lebih ramai, daripada pesta sekolah. Pesta sambut baru (siswa kelas 4 SD yang menerima sakramen komuni pertama dalam tradisi Gereja Katolik) hampir pasti dibuat tiap kepala keluarga di tiap rumah. 


Pesta sekolah sudah jarang didengar. Kalaupun ada, undangan yang hadir hanya orang-orang tertentu. Tak banyak yang hadir. Itulah kenapa saya sebut di muka bahwa pesta sekolah perlahan mulai luntur. 

 

Lunturnya makna atau jarangnya pesta sekolah disebabkan oleh beberapa alasan. Setidaknya menurut apa yang saya alami. 

 

Pertama-tama jarangnya dibuat pesta sekolah karena beberapa alasan. Beberapa di antaranya, misalnya, ada oknum yang langsung kawin atau berkeluarga setelah pesta sekolah. Selain itu ada alasan lain, seperti, setelah pesta sekolah ada oknum-oknum yang memanfaatkan dana pesta sekolah tidak untuk melanjutkan kuliah atau merantau, tetapi untuk tujuan lain. 


Setelah pesta sekolah ada juga oknum yang tidak merantau, tetapi tinggal saja di kampung halaman dan “tidak berbuat apa-apa”. 


Orang-orang Manggarai juga biasa mengenal sebutan kembeluak. Artinya ada oknum-oknum tertentu yang merasa, bahwa pesta sekolah tidak penting lagi, sehingga dia tidak menghadiri undangan dari tuan atau keluarga yang membuat pesta. 


Alasan berikutnya adalah tuan pesta dianggap jarang menghargai undangan pihak lain atau malas tahu mengikuti pesta sekolah yang dibuat pihak atau keluarga lain. Semacam hukum sebab-akibat.


Bila dilihat sejarah dan latar belakangnya, pesta sekolah semata dibuat untuk meminta dukungan dari seluruh anggota keluarga di kampung (pa’angn olo ngaungn musi). 


Pada masa lalu, di kampung-kampung hanya orang-orang tertentu yang menyekolahkan anaknya. Kepala-kepala keluarga yang menyekolahkan anaknya di bangku sekolah dasar sampai pendidikan menengah dan tinggi atau menyeberangi lautan, bukan semata karena dia orang berada.  

 

Mereka menyekolahkan anak-anaknya itu bisa jadi karena adanya kesadaran akan pentingnya pendidikan anak-anak. Tentu didukung oleh kemauan dan kemampuan intelektual si anak. 

 

Selain itu, pada masa lalu juga orang-orang yang menempuh pendidikan tinggi sangat langka. Oleh sebab itu, sesama anggota keluarga, pa'angn olo ngaung musi sangat mendukung si anak tersebut, untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. 


Kesadaran itu juga didukung oleh masih tingginya rasa solidaritas dan kekeluargaan antarsesama warga kampung dan lintas kampung. 


Beberapa tahun belakangan, hampir pasti sekolah-sekolah dibangun sampai ke kampung-kampung dan kecamatan. Banyak anak yang bersekolah di sekitar kampung halamannya. Daripada pergi jauh-jauh sekolah ke kota kabupaten (Ruteng), mendingan di sini saja. Menyitir lagu lawas, "lebih baik di sini sekolah kita sendiri"

 

Dampak lain dari kehadiran sekolah-sekolah sampai di kampung dan kecamatan adalah banyak anak yang bersekolah. Hampir pasti tiap keluarga punya anak yang mengenyam pendidikan menengah sampai pendidikan tinggi. 

 

Barangkali ini juga salah satu faktor sehingga pesta sekolah sangat jarang dibuat. Kalaupun dibuat, undangan hanya sesama warga kampung, bukan lintas kampung seperti dulu. 

 

Pesta sekolah merupakan bentuk dukungan anggota keluarga dan tamu undangan, baik material (berupa dana), maupun dukungan moril (berupa nasihat-nasihat atau pesan dan doa). 


Kesemua itu merupakan dukungan tidak terhingga. Apalagi itu bersifat sukarela dan bukan paksaan. Kehadiran wujud tertinggi (Mori Jari Dedek) dan leluhur juga menjadi penting di sini.


Kampung-kampung dan desa di Manggarai pada umumnya, merupakan bagian dari komunitas masyarakat adat global yang memiliki tradisi, budaya, dan seperangkat nilai dalam kehidupan bermasyarakat.


Adat, tradisi, dan nilai-nilai itu diwariskan dalam kehidupan bermasyarakat, dimanapun mereka berada. Tak terkecuali dalam memajukan atau mendukung pendidikan.


Tradisi atau praktik yang diwariskan secara turun-turun dalam masyarakat tadi, yang sebagiannya terejawantah dalam pesta sekolah, merupakan kebiasaan orang Manggarai pada umumnya. Kebersamaan atau kekeluargaan, tolong-menolong dan gotong-royong, serta rasa sosial dan nilai budaya itu, sangat kentara dalam pesta sekolah.


Rasa sosial dan kepedulian terhadap sesama tersebut merupakan bagian dari kebiasaan yang dilakukan turun-temurun. Ini sejalan dengan konsep kebudayaan menurut Ralph Linton (1839-1953) sebagaimana dikutip Aridarmayasa (2018) dalam dps.ac.id (2019). Linton mendefisikan kebudayaan sebagai sifat sosial yang dimiliki oleh manusia secara turun-temurun (Man’s social heredi).


Warisan-warisan dan tradisi seperti di atas patut dijaga dan dilestarikan. Bukan malah melepaskannya dengan dalih modernitas dan legitimasi sikap individualistik dan egosentristik.


Orang-orang tua Manggarai biasa bertuah melalui nyanyian dan ungkapan (go’et) tentang kebersamaan, kekeluargaan, persaudaraan, dan nilai moral lainnya. Beberapa di antaranya, padir wai rentu sai, bantang cama reje leleng, teu ca ambong neka woleng jaong, muku ca pu’u neka woleng curup, dan masih banyak go’et lainnya.


Mengajarkan nilai-nilai kebudayaan pada masyarakat Manggarai melalui goet-goet seperti itu, sedianya mempunyai kemiripan dengan apa yang dilakukan filsuf Tiongkok, Konfusius. Dalam Lyndon Saputra (edit.), Literatur Ajaran Lengkap Konfusius (2002), Konfusius selalu mengajarkan murid-muridnya dalam empat disiplin ilmu, yakni, kebudayaan, tingkah laku, loyalitas, dan itikad baik. Kebajikan Konfusius diperoleh berkat kecintaan pada kebudayaan nenek moyang, kecerdasan, dan kerja kerasnya.


Kepergian atau semacam perutusan pada si anak saat pesta sekolah tadi, kelak juga dilakukan upacara yang sama. Berupa doa dan ritual adat sebagai wali (laporan). Ini menandakan bahwa orang Manggarai meyakini bahwa kesuksesan diraih berkat campur tangan Tuhan, doa dari sesama, dan leluhur. []


#2022

Timoteus Rosario Marten